Mengembangkan
Kreativitas Siswa dengan Model Pembelajaran
Berbasis
Masalah
Oleh:
Akhmad Huda, S.Pd. *)
Absrak: Hasil-hasil pengajaran dan
pembelajaran berbagai bidang studi terbukti selalu kurang memuaskan berbagai
pihak (yang berkepentingan – stakeholder). Hal tersebut setidak-tidaknya
disebabkan oleh tiga hal. Pertama, perkembangan kebutuhan dan aktivitas
berbagai bidang kehidupan selalu meninggalkan proses/hasil kerja lembaga
pendidikan atau melaju lebih dahulu daripada proses pengajaran dan pembelajaran
sehingga hasil-hasil pengajaran dan pembelajaran tidak cocok/pas dengan
kenyataan kehidupan yang diarungi oleh siswa. Kedua, pandangan-pandangan dan
temuan-temuan kajian (yang baru) dari berbagai bidang tentang pembelajaran dan
pengajaran membuat paradigma, falsafah, dan metodologi pembelajaran yang ada
sekarang tidak memadai atau tidak cocok lagi. Ketiga, berbagai permasalahan dan
kenyataan negatif tentang hasil pengajaran dan pembelajaran menuntut
diupayakannya pembaharuan paradigma, falsafah, dan metodologi pengajaran dan
pembelajaran. Dengan demikian, diharapkan mutu dan hasil pembelajaran dapat
makin baik dan meningkat.
Kata
kunci: Kreatifitas, model pembelajaran, pembelajaran berbasis masalah
Pendidikan
memegang peranan yang amat penting untuk menjamin kelangsungan hidup negara dan
bangsa. Hal ini disebabkan pendidikan merupakan wahana untuk meningkatkan dan
mengembangkan kualitas sumber daya manusia. Guna mewujudkan tujuan di atas
diperlukan usaha yang keras dari masyarakat maupun pemerintah. Masyarakat
Indonesia dengan laju pembangunannya masih menghadapi masalah berat, terutama
berkaitan dengan kualitas, relevansi, dan efisiensi pendidikan.
Departemen Pendidikan Nasional
sebagai lembaga yang bertanggung jawab dalam penyelenggaraan pendidikan dan
telah melakukan pembaharuan system pendidikan. Usaha tersebut antara lain
adalah penyempurnaan kurikulum, perbaikan sarana dan prasarana, serta
peningkatan kualitas tenaga pengajar. Kurikulum yang berlaku sampai tahun ini
adalah kurikulum 1994. Kurikulum ini mengalami penyempurnaan dan hasil
penyempurnaan ini adalah kurikulum 2004 atau juga dikenal dengan KBK (Kurikulum
Berbasis Kompetensi). Ketika KBK ramai dibicarakan dan muncul buku-buku
pelajaran yang disusun berdasarkan kurikulum ini, muncul KTSP atau kurikulum
2006 yang merupakan penyempurnaan dari KBK. KTSP mulai diberlakukan secara
berangsur-angsur pada tahun ajaran 2006/2007
Adanya
tiga mnacam kurikulum yang berlaku paling tidak pada awal pemberlakuan KTSP
sangat membingungkan. Situasi ini diperparah dengan munculnya kesimpangsiuran
informasi tentang KBK dan KTSP yang beredar dimasyarakat. Guru sebagai orang
yang berhubungan langsung dengan pelaksanaan kurikulum merupakan pihak yang
paling dibingungkan dengan situasi ini.
Namun, kunci sukses pengajaran
bukan terletak pada kecanggihan kurikulum atau kelengkapan fasilitas sekolah,
melainkan bagaimana kredibilitas seorang guru di dalam mengatur dan
memanfaatkan mediator yang ada di dalam
kelas.
Dalam pengajaran atau proses belajar
mengajar guru memegang peran sebagai sutradara sekaligus aktor. Artinya, pada
gurulah tugas dan tanggung jawab merencanakan dan melaksanakan pengajaran di
sekolah. Guru sebagai tenaga professional harus memiliki sejumlah kemampuan
mengaplikasikan berbagai teori belajar dalam bidang pengajaran, kemampuan
memilih dan menerapkan metode pengajaran yang efektif dan efisien, kemampuan
melibatkan siswa berpartisipasi aktif, kreatif, dan kemampuan membuat suasana
belajar yang menunjang tercapainya tujuan pendidikan.
Model Pembelajaran Berbasis Masalah
(PBM) merupakan salah satu model pembelajaran yang dipandang cocok untuk
mengembangkan agar siswa berpartisipasi aktif dan kreatif. Pilihan itu sesuai
dengan pendapat, sebagaimana dikemukakan Gardner (1993), bahwa proses berpikir
kreatif berkaitan dengan penemuan dan pemecahan masalah.
Pengertian Pembelajaran Berbasis Masalah
Pembelajaran Berbasis Masalah
merupakan salah satu model pembelajaran yang diturunkan dari paham filsafat kontuktivisme.
Sesuai dengan karakteristik filsafatnya itu, belajar pada dasarnya adalah
kegiatan memperoleh pengalaman dengan mengkostruk pengalaman yang diperoleh
dari proses belajar. Hasil belajar yang berupa pengetahuan, keterampilan, dan
keahlian, serta kecapakan, bukanlah pemberian dari pembelajar (guru/dosen),
melainkan hasil dari aktivitas mengkonstruksi pengalaman belajar sendiri. Dalam
proses itu ada internalisasi pengalaman pada diri siswa yang berciri
individual. Akibatnya, pengalaman belajar dan hasil belajar dibenarkan
bervariasi.
Paradigma pembelajaran kontuktivisme
telah disuarakan dengan lantang oleh Degeng (2000, 2002) sebagai hal yang wajib
untuk merevolusi pembelajaran di Indonesia apabila kita ingin menghasilkan
semberdaya manusia lulusan pendidikan yang ideal. Paradigma behavioristik yang
dipegang oleh guru selama ini yang ditampilkannya dalam proses pembelajaran
berupa transfer pengetahuan dari guru ke siswa telah menunjukkan kegagalannya
dalam upaya menghasilkan lulusan pendidikan yang bertaraf ideal. Cara pandang
behavioristik ini harus secara radikal diganti dengan cara pandang
kontruktivisme.
Paradigma behavioristik harus
diganti dengan paradigma kontruktivisme, yang memandang pengetahuan sebagai
hasil upaya konstruksi yang dilakukan siswa. Ciri khas paradigma pembelajaran
konstruktivisme ialah keaktifan dan keterlibatan siswa dalam proses upaya
belajar sesuai dengan kemampuan, pengetahuan awal, dan gaya belajar
masing-masing dengan bantuan guru sebagai fasilitator yang membantu siswa
apabila siswa mengalami kesulitas dalam upaya belajarnya.
Ada tiga butir pandangan filosofis
paham kontruktivisme yang terkait dengan pembelajaran, termasuk dalam PBM
(Savery & Duffy, 1996). Pertama, pemahaman terjadi dalam interaksi dengan
lingkungan. Kedua, konflik atau persoalan yang dihadapi dan dihadapkan pada
siswa adalah stimulus untuk belajar dan menetukan organisasi dan hgakikat
hal-hal yang dipelajari. Ketiga, pengetahuan berkembang melalui sosial dan
melalui evaluasi terhadap viabilitas pemahaman individual.
Prinsip-prinsip dalam Pembelajaran Berbasis Masalah
Seperti model pembelajaran yang
lain, PBM terikat pada prinsip-prinsip yang berlaku. Prinsip-prinsip itu pula
yang perlu diketahui guru ketika melaksanakan pembelajaran dengan PBM.
Menurut Savery & Duffy (1996)
pembelajaran dalam PBM direalisasikan dengan sejumlah kegiatan dengan uraian
berikut Pertama, menempatkan semua aktivitas belajar pada tugas atau
masalah. Prinsip ini berarti bahwa belajar harus ditempatkan pada kegiatan
penyelesaian tugas atau penyelesaian masalah. Kedua, mendukung siswa dalam mengembangkan diri untuk memecahkan
masalah atau menyelesaikan tugas. Dalam mengembangkan kemampuan memecahkan
masalah ada dua cara yang dapat ditempuh. Pertama, siswa meminta masalah dari
guru dan menggunakannya sebagai stimulus untuk beraktivitas belajar, artinya
masalah yang dipecahkan berasal dari siswa. Kedua, guru menetapkan masalah dan
memberikannya kepada siswa sebagai stimulus aktivitas belajar.
Ketiga, merancang tugas autentik yang dimaksudkan
agar pengajar berada dalam lingkungan belajar yang autentik sehingga siswa itu mendapatkan pengalaman belajar yang
diperlukan sebagai pengalaman belajar yang autentik pula. Keempat, merancang
tugas dan lingkungan belajar untuk merefleksi kompleksitas lingkungan yang
difungsikan siswa. Kelima,
memberi siswa hak (ownership) untuk memecahkan masalah atau
solusi. Dalam pembelajaran PBM siswa diberi hak sepenuhnya untuk memecahkan
masalah atau mengembangkan solusi. Keenam, merancang lingkungan belajar
untuk mendukung pengembangan pikiran siswa. Dalam pelaksanaan pembelajaran,
guru bertindak sebagai bagian integlar fasilitator dan bagian integral
lingkungan belajar siswa. Guru merupakan salah satu sumber belajar. Ketujuh, memberi kesempatan untuk menguji gagasan
dalam pandangan dan konteks alternatif. Kegiatan ono diarahkan untuk memberikan
sikap terbuka pada siswa tentang bkualitas dan kedalam pengalaman hasil
belajar, dan kedelapan, memberikan kesempatan untuk melakukan refleksi,
baik konten maupun proses. Untuk memaknai pengalaman belajar dan hasil belajar,
siswa perlu melakukan kegiatan refleksi. Refleksi diarahkan pada dua hal, yakni
strategi belajar dan hasil belajar. Refleksi merupakan bagian integral proses
belajar (Suparno, 2004: 4-9).
Proses Pembelajaran dalam PBM
Secara garis besar, sebagaimana
dikemukakan oleh Barrows & Myers (dalam Savery & Duffy, 1996: 142), PBM
dilaksankan dalam lima tahapan berikut: (1) tahapan pengkondisian kelas
(starting a new class), (2) tahap penyampaian masalah baru (starting a new
problem), (3) tahap tindak lanjut masalah (problem fallow-up), (4) tahap
presentasi hasil (performance presentation), dan (5) tahap pasca penyimpulan
masalah( after conclusion of problem).
Setiap tahapan tersebut berisi
sejumlah kegiatan. Tahap pertama berisi ekgiatan introduksi dan penciptaan
iklim belajar. Tahap kedua berisi kegiatan menyusun masalah, memberikan masalah
kepada siswa, mendeskripsikan produk, menyampaikan tugas pemecahan masalah,
memberikan penalaran berdasarkan masalah, merumuskan komitmen sebagai hasil
yang mungkin ada, menajamkan pemahaman isu dan tugas, mengidentifikasi sumber
belajar, dan menetapkan tindak lanjut. Tahap ketiga berisi kegiatan penetapan
sumber belajar dan kegiatan menguji masalah. Tahap keempat berisi kegiatan
presentasi hasil pemecahan masalah. Tahap kelima berisi kegiatan mengabstraksi
dan meringkas pengetahuan dan kegiatan melakukan evaluasi diri.
Kegiatan mengabstraksi dan meringkas
pengetahuan berupa kegiatan mengembangkan definisi, diagram, daftar, konsep,
abstraksi, dan prinsip. Kegiatan evaluasi diri dilakukan dalam kelompok dengan
kegiatan-kegiatan berikut: (1) melakukan penalaran berdasarkan masalah, (2)
menguak informasi dengan menggunakan sumber belajar yang baik, (3) membantu
kelompok berdasarkan tugasnya, dan (4) memperoleh dan menghaluskan pengetahuan
hasil belajar. (Suparno, 2004:11-12)
Simpulan
PBM
memungkinkan siswa untuk memperoleh pengalaman belajar yang autentik sebagai
produk interaksi antara siswa dan sumber belajar. Pengalaman yang demikian itu
sangat bermakna bagi siswa yang pada saatnya akan bermakna pula dalam kehidupan
pasca belajar di sekolah. Untuk memaksimalkan perolehan pengalaman belajar itu,
prinsip-prinsip pembelajaran yang relevan dan proses pembelajaran yang menunjang
harus diterapkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar