PENERAPAN PETA
KONSEP UNTUK MENINGKATKAN KREATIVITAS SISWA PADA PEMBELAJARAN DI KELAS
Oleh: Akhmad Huda, S.Pd.
(Guru MAN Bangil
Kab. Pasuruan)
Abstrak: Pada
dasarnya, semua anak kreatif, orang tua dan guru hanya perlu menyediakan
lingkungan yang benar untuk membebaskan seluruh potensi kreatifnya. Di dalam
pendidikan anak, orang tua dan guru bukanlah pengajar. Orang tua dan guru
diharapkan memberikan stimulasi pada anak, sehingga terjadi proses pembelajaran
yang berpusat pada anak. Stimulasi dapat diberikan dengan cara memberikan
kesempatan pada anak untuk menjadi kreatif. Biarkan anak dengan bebas
melakukan, memegang, menggambar, membentuk, ataupun membuat dengan caranya
sendiri dan menguraikan pengalamannya sendiri. Bebaskan daya kreatif anak
dengan membiarkan anak menuangkan imajinasinya. Ketika anak mengembangkan
keterampilan kreatif, maka anak tersebut juga dapat menghasilkan ide-ide yang
inovatif dan jalan keluar dalam menyelesaikan masalah serta meningkatkan kemampuan
dalam mengingat sesuatu.
Kata Kunci: Konsep, Peta Konsep
Suatu cara yang mampu
menyalakan percikan-percikan kreativitas anak adalah dengan membebaskan anak
menuangkan pikirannya. Salah satu cara adalah dengan menggunakann peta konsep.
Peta konsep akan membuat rangkaian yang bermakna, sehingga ingatan lebih kuat
untuk menyimpannya. Dan tidak mungkin seseorang dapat menghubungkan sesuatu
(konsep) apabila orang tidak mengerti benar akan konsep tersebut.. Seseorang
yang telah dapat mengkaitkan konsep-konsep menunjukkan orang tersebut telah
faham benar dengan konsep yang dimengertinya, karena peta konsep menggambarkan
bagaimana konsep-konsep saling terkait atau berhubung-hubungan.
Menurut Dahar (1988:116)
pembentukan konsep-konsep mengizinkan kita untuk mengatur dan menyederhanakan
lingkungan kita. Konsep-konsep merupakan dasar-dasar untuk berpikir, untuk
belajar aturan-aturan, dan akhirnya untuk memecahkan masalah. Tanpa
konsep-konsep tak mungkin kita mengajar.
Guru hendaknya menentukan
konsep-konsep yang akan diajarkannya kepada para siswa, tingkat-tingkat
pencapaian konsep yang diharapkan dari para siswa, dan metode mengajar yang
akan digunakan. Pengetahuan tentang perkembangan kognitif dan perkembangan
bahasa akan menolong dalam membuat keputusan-keputusan ini. Analisis konsep
dapat digunakan untuk merencanakan pengajaran, dan untuk menentukan apakah para
siswa telah mencapai konsep-konsep pada tingkat yang sesuai. Pencapaian konsep
memperlancar belajar melalui proses-proses transfer.
Pengertian Peta Konsep
Peta konsep merupakan salah satu bagian dari strategi
organisasi. Strategi organisasi bertujuan membantu pebelajar meningkatkan
kebermaknaan bahan-bahan organisasi bertujuan membantu pebelajar meningkatkan
kebermaknaan bahan-bahan baru, terutama dilakukan dengan mengenalkan
struktur-struktur pengorganisasian baru pada bahan-bahan tersebut.
Strategi-strategi organisasi dapat terdiri dari pengelompokan ulang ide-ide
atau istilah-istilah atau membagi ide-ide atau istilah-istilah itu menjadi
subset yang lebih kecil. Strategi- strategi ini juga terdiri dari
pengidentifikasian ide-ide atau fakta-fakta kunci dari sekumpulan informasi
yang lebih besar.
Salah satu pernyataan dalam
teori Ausubel adalah bahwa faktor yang paling penting yang mempengaruhi
pembelajaran adalah apa yang telah diketahui siswa (pengetahuan awal). Jadi
supaya belajar jadi bermakna, maka konsep baru harus dikaitkan dengan konsep-konsep
yang ada dalam struktur kognitif siswa (Suryadi
menambahkan di sini –> Ini yang disebut Teknik Konstruktivisme).
Ausubel belum menyediakan suatu alat atau cara yang sesuai yang digunakan guru
untuk mengetahui apa yang telah diketahui oleh para siswa (Dahar, 1988: 149).
Berkenaan dengan itu Novak dan Gowin (1985) dalam Dahar (1988: 149)
mengemukakan bahwa cara untuk mengetahui konsep-konsep yang telah dimiliki
siswa, supaya belajar bermakna berlangsung dapat dilakukan dengan pertolongan peta
konsep.
Konsep dapat didefinisikan
dengan bermacam-macam rumusan. Salah satunya adalah defenisi yang dikemukakan
Carrol dalam Kardi (1997: 2) bahwa konsep merupakan suatu abstraksi dari
serangkaian pengalaman yang didefinisikan sebagai suatu kelompok obyek atau
kejadian. Abstraksi berarti suatu proses pemusatan perhatian seseorang pada
situasi tertentu dan mengambil elemen-elemen tertentu, serta mengabaikan elemen
yang lain.
George Posner dan Alan
Rudnitsky dalam Nur (2001b: 36) menyatakan bahwa peta konsep mirip peta jalan,
namun peta konsep menaruh perhatian pada hubungan antar ide-ide, bukan hubungan
antar tempat. Peta konsep bukan hanya meggambarkan konsep-konsep yang penting
melainkan juga menghubungkan antara konsep-konsep itu. Dalam menghubungkan
konsep-konsep itu dapat digunakan dua prinsip, yaitu diferensiasi progresif dan
penyesuaian integratif. Menurut Ausubel dalam Sutowijoyo (2002: 26)
diferensiasi progresif adalah suatu prinsip penyajian materi dari materi yang
sulit dipahami. Sedang penyesuaian integratif adalah suatu prinsip
pengintegrasian informasi baru dengan informasi lama yang telah dipelajari
sebelumnya. Oleh karena itu belajar bermakna lebih mudah berlangsung, jika
konsep-konsep baru dikaitkan dengan konsep yang inklusif.
Konsep-konsep yang diajarkan
di sekolah pada umumnya memenuhi persyaratan yang dikemukakan oleh Klausmeier
yaitu tingkat konkrit, tingkat identitas, tingkat klasifikatori, dan tingkat
formal. Uraian tentang tingkat pencapaian konsep Klausmeier diuraikan sebagai
berikut (1) Tingkat konkrit. Kita dapat menyimpulkan, bahwa seseorang telah
mencapai konsep pada tingkat konkrit, apabila orang itu mengenal suatu benda
yang telah dihadapi sebelumnya. Untuk mencapai konsep tingkat konkrit, siswa
harus dapat memperhatikan benda itu, dari stimulus-stimulus yang ada di
lingkungannya. Selanjutnya ia harus menyajikan benda itu sebagai suatu gambaran
mental, dan menyimpan gambaran mental itu, (2) Tingkat identitas. Pada tingkat
identitas, seorang akan mengenal objek a) sesudah selang suatu waktu, b) bila
orang itu mempunyai orientasi ruang yang berbeda terhadao objek itu, atau c)
bila objek itu ditentukan melalui suatu cara indera yang berbeda, misalnya,
mengenal suatu bola dengan cara menyentuh bola itu dengan meihatnya, (3) Tingkat
klasifikatori. Pada tingkat klasifikatori siswa mengenal persamaan dari dua
contoh yang berbeda dari kelas yang sama, dan (4) Tingkat formal. Untuk
pencapaian konsep pada tingkat formal, siswa harus dapat menentukan
atribut-atribut yang membatasi konsep.
Ciri-ciri Peta Konsep
Untuk
membuat suatu peta konsep, siswa dilatih untuk mengidentifikasi ide-ide kunci
yang berhubungan dengan suatu topik dan menyusun ide-ide tersebut dalam suatu
pola logis. Kadang-kadang peta konsep merupakan diagram hirarki, kadang peta
konsep itu memfokus pada hubungan sebab akibat. Agar pemahaman terhadap peta
konsep lebih jelas, maka dalam bagian ini akan dikemukakan beberapa ciri peta
konsep yaitu, (1) Peta konsep atau pemetaan konsep ialah suatu cara untuk
memperhatikan konsep-konsep suatu bidang studi. Dengan membuat sendiri peta
konsep, siswa “melihat” bidang studi itu lebih jelas, dan mempelajari bidang
studi itu lebiih bermakna, (2) Suatu peta konsep merupakan suatu gambar dua
dimensi dari suatu bidang studi, atau suatu bagian dari bidang studi. Hal inilah
yang membedakan belajar bermakna dari belajar dengan cara mencatat pelajaran
tanpa memperhatikan hubungan antara konsep-konsep, dan dengan demikian hanya
memperlihatkan gambar satu dimensi saja,
(3) Ciri yang ketiga ialah mengenai cara menyatakan hubungan antara
konsep-konsep. Tidak semua konsep mempunyai bobot yang sama. Ini berarti, bahwa
ada beberapa konsep yang lebih inklusif dari pada konsep-konsep yang lain,
dan (4) Ciri keempat peta konsep ialah
tentang hirarki Bila dua atau lebih konsep digambarkan di bawah suatu konsep
yang lebih inklusif, terbentuklah suatu hirarki pada peta konsep tersebut.
Peta konsep dapat menunjukkan
secara visual berbagai jalan yang dapat ditempuh dalam menghubungkan pengertian
konsep di dalam permasalahanya. Peta konsep yang dibuat murid dapat membantu
guru untuk mengetahui miskonsepsi yang dimiliki siswa dan untuk memperkuat
pemahaman konseptual guru sendiri dan disiplin ilmunya. Selain itu peta konsep
merupakan suatu cara yang baik bagi siswa untuk memahami dan mengingat sejumlah
informasi baru (Arends, 1997: 251).
Menyusun Peta Konsep
Peta
konsep memegang peranan penting dalam belajar bermakna, karena itu hendaknya
setiap siswa pandai menyusun peta konsep untuk menyakinkan bahwa pada siswa itu
telah berlangsung belajar bermakna.
Beberapa
langkah yang harus diikuti dalam menyusun peta konsep, yaitu: (1) Pilihlah
suatu bacaan dari buku pelajaran, (2) Tentukan konsep-konsep yang relevan, (3) Urutkan
konsep-konsep itu dari yang paling inklusif ke yang paling tidak inklusif atau
contoh-contoh, (4) Susunlah konsep-konsep itu di atas kertas, mulai dengan
konsep yang paling inklusif di puncak ke konsep yang paling tidak iklusif, dan
(5) Hubungkanlah konsep-konsep itu dengan kata atau kata-kata penghubung.
Menurut
Suyanto (2009:23) peta konsep dimaksudkan agar siswa lebih terampil untuk
menggali pengetahuan awal yang sudah dimiliki dan memperoleh pengetahuan baru
sesuai pengalaman belajarnya. Adapun langkahnya adalah sebagai berikut: (1)
Guru memberikan satu konsep utama (major
event/idea/koncept), (2) Siswa diminta mengembangkan konsep tersebut
menjadi sub-sub konsep yang berkaitan (sub
events/ideas/concepts), (3) Susunlah konsep, sub konsep, sub-sub konsep
sesaui dari yang paling umum (utama) ke konsep yang lebih spesifik, dan (4)
susunlah dalam bentuk tulisan/laporan, dengan mengkaitkan sub ide-ide terebut
dan didefinisikan bila perlu.
Kegunaan Peta Konsep
Dalam
pendidikan peta konsep dapat diterapkan untuk berbagai tujuan, antara lain: Pertama, menyelediki apa yang telah
diketahui siswa. Telah dikemukakan terdahulu, bahwa belajar bermakna
membutuhkan usaha yang sungguh-sungguh dari pihak siswa untuk menghubungkan
pengetahuan baru dengan konsep-konsep relevan yang telah mereka miliki. Untuk
memperlancar proses ini guru harus mengetahui konsep-konsep apa yang telah
dimiliki siswa waktu pelajaran akan dimulai, sedangkan para siswa diharapkan
dapat menunjukkan di mana mereka berada, atau konsep-konsep apa yang telah
mereka miliki dalam menghadapi pelajaran baru itu.
Kedua, belajar bagaimana belajar. Bila
seorang siswa dihadapkan pada suatu bab dari buku pelajaran ia tidak akan
begitu saja memahami apa yang dibacanya. Dengan diminta untuk menyusun peta
konsep dari isi bab itu, ia akan berusaha untuk mengeluarkan konsep-konsep dari
apa yang dibacanya, menempatkan konsep yang paling inklusif pada puncak peta
konsep yang dibuatnya, kemudian mengurutkan konsep-konsep yang lain yang kurang
inklusif pada konsep yang paling inkulusif, dan demikian seterusnya.
Ketiga, mengungkapkan konsepsi salah.
Selain keguanaan-kegunaan yang telah disebutkan di atas, peta konsep dapat pula
mengungkapkan konsep salah yang terjadi pada siswa. Konsep salah biasanya
timbul karena terdapat kaitan antara konsep-konsep yang mengakibatkan proposisi
yang salah. Keempat, alat evaluasi.
Selama ini alat-alat evaluasi yang dikenal oleh guru dan siswa terutama
berbentuk tes objektif atau tes esai. Walaupun cara evaluasi ini akan terus
memegang peranan dalam dunia pendidikan, teknik-teknik evaluasi baru perlu
dipikirkan untuk memecahkan masalah-masalah evaluasi yang kita hadapi dewasa
ini. Salah satu teknik evaluasi yang disarankan dalam buku ini ialah penggunaan
peta konsep.
Penggunaan
peta konsep sebagai alat evaluasi didasarkan pada tiga gagasan dalam teori
kognitif Ausubel yaitu (a) Struktur kognitif itu diatur secara hirarki dengan
konsep-konsep yang lebih inklusif, (b) Konsep-konsep dalam struktur kognitif
mengalami diferensiasi progresif. Prinsip Ausubel ini menyatakan, bahwa belajar
bermakna merupakan proses kontinu. Jadi konsep-konsep tidak pernah “tuntas
dipelajari” tetapi selalu dipelajari, dimodifikasi, dan dibuat lebih inklusif,
(c) penyesuaian integratif. Prinsip belajar ini menyatakan, bahwa belajar
bermakna akan meningkat, bila siswa menyadari hubungan-hubungan baru (kaitan-kaitan
konsep) antara kumpulan-kumpulan konsep-konsep yang berhubungan. Dari uraian
tersebut dapat dikemukakan secara ringkas, bahwa Novak (1985) dalam Dahar (1988:161)
memperhatikan empat kriteris penilaian, yaitu: (1) kesahihan konsep, (2) adanya
hirarki, (3) adanya kaitan silang, dan (4) adanya contoh-contoh.
Simpulan
Berlangsung
atau tidaknya belajar bermakna tergantung pada struktur kognitif yang ada,
serta kesiapan dan niat anak didik untuk belajar bermakna, dan kebermaknaan
materi pelajaran secara potensial.
Untuk
menerapkan teori Ausubel dalam mengajar, guru perlu memperhatikan adanya
pengatur awal pada awal pelajaran, dalam mengaitkan konsep-konsep. Atas dasar
teori Ausubel, Novak mengemukakan gagasan peta konsep yang menyatakan hubungan
antara konsep-konsep untuk menolong guru mengetahui konsep-konsep yang telah
dimiliki para siswa agar belajar bermakna dapat berlangsung, untuk mengetahui
penguasaan konsep-konsep pada siswa, dan untuk menolong para siswa belajar
bagaimana belajar.
Daftar Rujuan
Dahar, Ratna Wilis. 1988. Teori-teori Belajar. Bandung: P2LPTK
Suyanto, Kasihani K. E. Suyanto. 2009. Model
Pembelajaran. Malang: Universitas Negeri Malang
Holil, Anwar. 2008. Peta Konsep untuk Mempermudah Konsep Sulit dalam Pembelajaran.
(Online), (http//www.pkab.wordpress.com diakses 10 Februari 2010)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar